Museum Aceh
Banda Aceh · Indonesia · 1915
Photo: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia · Public domain
Jawaban singkat
Didirikan pada 1915, Museum Aceh di Banda Aceh termasuk museum tertua di Indonesia. Buka Sabtu–Kamis: 08.30–12.00 dan 13.30–16.30 WIB; tutup setiap hari Jumat. Tiket: Rp5.000 untuk dewasa; Rp3.000 untuk anak-anak; Rp15.000 untuk wisatawan mancanegara. Luangkan waktu 1–1,5 jam.
Informasi pengunjung terakhir ditinjau 22 Oktober 2026. Periksa situs resmi museum untuk informasi terbaru.
Museum Aceh sekilas: jam buka, harga tiket, dan lama kunjungan
| Jam buka | Sabtu–Kamis: 08.30–12.00 dan 13.30–16.30 WIB (Tutup setiap Jumat) |
|---|---|
| Tutup | Jumat |
| Harga tiket | Rp5.000 untuk dewasa; Rp3.000 untuk anak-anak; Rp15.000 untuk wisatawan mancanegara |
| Gratis atau diskon | Anak-anak: Rp3.000 |
| Pemesanan | Tiket biasanya tersedia di hari yang sama |
| Waktu kunjungan | 1–1,5 jam |
| Waktu terbaik berkunjung | Datanglah pukul 08.30 atau tepat setelah museum buka kembali pukul 13.30 WIB, pada hari apa pun selain Jumat. |
| Cara ke sana | Jalan kaki: Kurang dari 1 km di sebelah timur Museum Tsunami Aceh di Jalan Sultan Iskandar Muda, di pusat Kota Banda Aceh dekat Lapangan Blang Padang |
| Alamat | Jl. Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Baiturrahman, Banda Aceh 23116, Aceh, Indonesia |
| Situs resmi | museum.acehprov.go.id |
Diperiksa 22 Oktober 2026 dengan situs resmi. Harga dan jam buka bisa berubah — pastikan sebelum berangkat.
Museum Aceh terkenal karena apa?
Museum Aceh berawal dari sebuah bangunan pameran. Rumoh Aceh-nya, rumah panggung kayu tradisional, menjadi Paviliun Aceh dalam De Koloniale Tentoonstelling, pameran kolonial yang digelar di Semarang pada 13 Agustus–15 November 1914. Etnografer Belanda F. W. Stammeshaus mengusulkan agar paviliun itu dipindahkan ke Kutaraja, nama Banda Aceh kala itu, dan pada 31 Juli 1915 bangunan tersebut dibuka sebagai Atjeh Museum, diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh H. N. A. Swart, dengan Stammeshaus sebagai kurator pertamanya. Pada 1969 museum dipindahkan dari Blang Padang ke lokasinya sekarang di Jalan Sultan Mahmudsyah, di atas lahan seluas 10.800 meter persegi.
Setelah kemerdekaan, pengelolaan museum beberapa kali berpindah tangan: Pemerintah Daerah Tingkat II Banda Aceh, Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (Baperis), lalu pada 1976–2002 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang menjadikannya Museum Negeri Aceh. Sejak 2002 museum ini menjadi UPTD Pemerintah Aceh di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pembangunan sejak 1974 menambahkan gedung pameran tetap yang memadukan arsitektur tradisional dan modern, serta perpustakaan dan laboratorium. Kini pengunjung dapat menjelajahi tiga ruang pamer — Gedung Pameran Tetap, Rumoh Aceh, dan Ruang Pameran Temporer — dengan balee, musala, kafe, dan perpustakaan di kawasan museum.
Hingga 2025 koleksinya berjumlah 6.038 benda dalam sepuluh jenis, terbanyak etnografika (1.869) dan filologika (1.599 naskah dan dokumen), ditambah numismatika dan heraldika, keramik, arkeologika, seni rupa, serta sejarah alam, juga 12.445 judul buku perpustakaan. Koleksi paling terkenal adalah Lonceng Cakra Donya, hadiah Dinasti Ming untuk Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-15, yang sudah tampak dalam foto-foto awal paviliun. Meriam besi peninggalan Belanda yang diperkirakan berasal dari abad ke-17 berdiri di depan gedung pameran tetap, dan peta rempah dunia layar sentuh di lantai 1 menelusuri peran Aceh dalam perdagangan rempah.
Museum buka setiap hari kecuali Jumat dalam dua sesi, pukul 08.30–12.00 dan 13.30–16.30 WIB. Tiket Rp5.000 untuk dewasa, Rp3.000 untuk anak-anak, dan Rp15.000 untuk wisatawan mancanegara, dibayar tunai atau melalui QRIS. Anak-anak mendominasi kunjungan: dari 38.436 pengunjung pada Januari–September 2026, sebanyak 21.593 adalah anak-anak dan 2.967 wisatawan mancanegara. Pengunjung boleh memotret tanpa lampu kilat dan tanpa tripod, dan museum menyediakan denah kawasan dalam bahasa Inggris. Museum Tsunami Aceh berjarak kurang dari satu kilometer, sehingga keduanya pas dikunjungi dalam setengah hari.
Cocok untuk: Pencinta sejarah · Keluarga · Pencinta arsitektur
Berapa lama waktu yang dibutuhkan di Museum Aceh?
Luangkan waktu 1–1,5 jam. Tiga ruang pamer museum dan kawasannya, dari Rumoh Aceh 1914 hingga gedung pameran tetap.
- 1
Rumoh Aceh
📍 Kawasan museum
Perhatikan konstruksi kayu berpasak dan tiga serambinya, dari serambi depan yang terbuka hingga ruang belakang yang privat.
- 2
Meriam dan Lonceng Cakra Donya
📍 Kawasan museum
Lihat meriam besi tua di depan gedung pameran tetap, lalu tanyakan kepada petugas di mana Lonceng Cakra Donya peninggalan Dinasti Ming saat ini dipamerkan.
- 3
Gedung Pameran Tetap
📍 Gedung Pameran Tetap
Cobalah peta rempah layar sentuh di lantai 1 sebelum menyusuri galeri naskah, mata uang, dan etnografika.
- 4
Ruang Pameran Temporer
📍 Ruang Pameran Temporer
Cek situs web museum untuk pameran temporer yang sedang berlangsung dan ruang yang sedang dalam pemeliharaan.
Koleksi apa yang wajib dilihat di Museum Aceh?
Rumoh Aceh (Paviliun Aceh 1914)
Rumah panggung kayu Aceh · dipamerkan di Semarang, 1914
📍 Kawasan museum
Rumah adat yang menjadi Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial Semarang 1914 dan menjadi Atjeh Museum pada 1915 — dirangkai dengan pasak kayu tanpa paku besi dan terbagi atas serambi depan, tengah, dan belakang.
Lonceng Cakra Donya
Hadiah Dinasti Ming untuk Kesultanan Samudera Pasai · abad ke-15
Lonceng besar pemberian Dinasti Ming kepada Kesultanan Samudera Pasai; lonceng ini sudah tampak dalam foto-foto awal paviliun dan menjadi salah satu benda bersejarah terpenting museum.
Naskah-naskah Islam
Tradisi naskah Aceh
Naskah seperti Sabilal Mubtady li al-tafaqqah fi amr al-din dan Safinatul Hukkam fi Takhlishlil Khasham, bagian dari 1.599 koleksi filologika yang terus dirawat museum.
Meriam besi
Masa kolonial Belanda · diperkirakan abad ke-17
📍 Di depan Gedung Pameran Tetap
Meriam besi tua peninggalan Belanda yang ditempatkan di taman depan gedung pameran tetap.
Peta Rempah Dunia Interaktif
Instalasi digital · 2026
📍 Gedung Pameran Tetap, lantai 1
Peta layar sentuh yang menunjukkan rempah yang diekspor dan didatangkan Aceh serta wilayah-wilayah mitra dagangnya, dihadirkan pada September 2026.
Koleksi dan sorotan
- • Rumoh Aceh (1914)
- • Naskah dan dokumen (1.599 koleksi)
- • Etnografika: tempat sirih, pisau, kalung, gendang, dan lampu
- • Alat pertanian seperti jeungki penumbuk padi
- • Mata uang, cap, dan heraldika
- • Keramik dan arkeologika
- • Seni rupa dan lukisan sejarah
- • Perpustakaan dengan 12.445 judul buku
Tips berkunjung ke Museum Aceh
- 1.
Waktu terbaik berkunjung
Datanglah pukul 08.30 atau tepat setelah museum buka kembali pukul 13.30 WIB, pada hari apa pun selain Jumat. Rombongan sekolah merupakan bagian besar pengunjung, dan September menjadi bulan teramai sepanjang 2026 sejauh ini.
- 2.
Tiket & pemesanan
Bayar di loket secara tunai atau QRIS: Rp5.000 dewasa, Rp3.000 anak-anak, Rp15.000 wisatawan mancanegara. Peneliti wajib membawa surat dari lembaganya yang ditujukan kepada Kepala Museum.
- 3.
Aksesibilitas
Museum mencantumkan akses ramah disabilitas, toilet, Wi-Fi gratis, dan ruang menyusui (atas permintaan) dalam daftar fasilitasnya. Rumoh Aceh adalah rumah panggung yang dinaiki lewat tangga, jadi tanyakan kepada petugas soal aksesnya.
- 4.
Aturan foto
Memotret dan merekam video diperbolehkan, tetapi lampu kilat dilarang di ruang koleksi, dan tripod maupun monopod tidak diperkenankan di ruang pameran.
Bagaimana cara ke Museum Aceh?
- Jalan kaki Kurang dari 1 km di sebelah timur Museum Tsunami Aceh di Jalan Sultan Iskandar Muda, di pusat Kota Banda Aceh dekat Lapangan Blang Padang
- Taksi Taksi atau taksi online ke Jl. Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti; parkir di lokasi Rp2.000 untuk motor, Rp3.000 untuk mobil, dan Rp5.000 untuk bus
Alamat: Jl. Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Baiturrahman, Banda Aceh 23116, Aceh, Indonesia
Sumber yang kami periksa
Fakta pengunjung dan sejarah di halaman ini berasal dari sumber berikut, diperiksa pada tanggal yang tertera.
- Tiket Museum Aceh — UPTD Museum Aceh (Aceh Culture and Tourism Office), 22 Oktober 2026
- Jadwal Kunjungan — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Peraturan Museum Aceh — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Fasilitas Museum Aceh — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Sejarah Museum Aceh — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Koleksi — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Penelitian di Museum Aceh — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Tren Kunjungan Museum Aceh Meningkat, September Jadi yang Tertinggi (30 September 2026) — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Filosofi Hidup di Balik Keagungan Rumoh Aceh (15 September 2026) — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Museum Aceh Hadirkan Peta Rempah Dunia Interaktif (12 September 2026) — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Mengapa Dilarang Menggunakan Flash di Ruang Koleksi Museum? (17 September 2026) — UPTD Museum Aceh, 22 Oktober 2026
- Museum Aceh — national museum registry profile — Ministry of Culture of the Republic of Indonesia, 22 Oktober 2026
- Museum Aceh — Ministry of Tourism of the Republic of Indonesia (Wonderful Indonesia), 22 Oktober 2026
- Museum Aceh — Wikipedia (Bahasa Indonesia), 22 Oktober 2026
- Aceh Museum — Wikipedia, 22 Oktober 2026
- Jejak Sejarah di Museum Aceh, Rumah Tradisional yang Menjadi Pusat Memori Tanah Rencong (15 July 2026) — Good News From Indonesia, 22 Oktober 2026
Museum Aceh: pertanyaan yang sering diajukan
Berapa harga tiket masuk Museum Aceh?
Tiket masuk Rp5.000 untuk dewasa, Rp3.000 untuk anak-anak, dan Rp15.000 untuk wisatawan mancanegara, dibayar tunai atau melalui QRIS di loket museum. Tarif parkir Rp2.000 untuk sepeda motor, Rp3.000 untuk mobil pribadi, dan Rp5.000 untuk bus atau minibus. Tidak ada pemesanan daring; cukup beli tiket di loket saat tiba.
Jam berapa Museum Aceh buka?
Museum buka setiap hari kecuali Jumat dalam dua sesi: pukul 08.30–12.00 dan 13.30–16.30 WIB. Museum tutup saat jeda siang, dan libur di luar jadwal rutin diumumkan di situs webnya. Ruang Pameran Tetap, Rumoh Aceh, dan Ruang Pameran Temporer sesekali ditutup untuk pemeliharaan, dan saat ramai Anda mungkin perlu menunggu giliran masuk ruang pamer.
Di mana lokasi Museum Aceh dan bagaimana cara ke sana?
Museum berada di Jalan Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, di pusat Kota Banda Aceh dekat Lapangan Blang Padang. Museum Tsunami Aceh berjarak kurang dari satu kilometer di sebelah barat, sehingga keduanya mudah dikunjungi dalam satu pagi. Taksi dan taksi online bisa menurunkan Anda di gerbang, dan tersedia parkir untuk motor, mobil, dan bus.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling Museum Aceh?
Sediakan sekitar 1–1,5 jam untuk melihat Rumoh Aceh, gedung pameran tetap dengan peta rempah interaktif dan naskah kunonya, ruang pameran temporer, meriam tua di halaman, serta Lonceng Cakra Donya. Karena museum tutup pukul 12.00–13.30 WIB, datanglah paling lambat pukul 10.30 untuk kunjungan pagi atau setelah jeda siang agar tidak terburu-buru.
Apa saja koleksi unggulan Museum Aceh?
Mulailah dari Rumoh Aceh, rumah panggung kayu yang menjadi Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial Semarang 1914. Lalu temukan Lonceng Cakra Donya, hadiah Dinasti Ming untuk Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-15, meriam besi di depan gedung pameran tetap, koleksi naskah kuno, serta peta rempah layar sentuh yang menelusuri jalur dagang Aceh.
Bolehkah memotret di dalam Museum Aceh?
Boleh. Tata tertib museum membolehkan fotografi dan perekaman video, tetapi lampu kilat dilarang karena cahaya merusak tekstil, naskah, foto, dan koleksi peka lainnya secara permanen. Tripod dan monopod tidak diperkenankan di ruang pameran, dan kegiatan yang memerlukan izin khusus perlu dibicarakan dengan petugas. Makanan dan minuman tidak boleh dibawa ke ruang pameran dan perpustakaan.
Apa isi Rumoh Aceh di Museum Aceh?
Rumoh Aceh adalah rumah panggung kayu yang dirangkai dengan pasak kayu tanpa paku besi. Rumah ini terbagi tiga: Seuramo Keu, serambi depan untuk menerima tamu laki-laki dan bermusyawarah; Seuramo Teungoh, ruang tengah keluarga yang juga disebut rumoh inong; dan Seuramo Likôt, serambi belakang yang privat bagi kaum perempuan, tempat kamar tidur utama.
Apakah Museum Aceh gratis?
Tidak. Pengunjung membayar tiket masuk Rp5.000 untuk dewasa, Rp3.000 untuk anak-anak, dan Rp15.000 untuk wisatawan mancanegara. Tarif lebih murah berlaku untuk anak-anak.
Apakah Museum Aceh buka hari Jumat?
Tidak — Museum Aceh tutup setiap hari Jumat. Rencanakan kunjungan ke museum lain pada hari tersebut dan periksa situs resmi untuk perubahan jam saat hari libur.