Gambaran umum
Dua museum utama Banda Aceh berjarak kurang dari satu kilometer, di dekat Lapangan Blang Padang di pusat kota. Museum Tsunami Aceh rancangan Ridwan Kamil adalah memorial sekaligus pusat edukasi kebencanaan untuk gempa dan tsunami 2004, dengan pintu masuk berupa lorong gelap di antara dinding air yang mengalir. Museum Aceh, yang didirikan pada 1915, berpusat pada Rumoh Aceh, rumah panggung kayu, dan lonceng Cakra Donya dari abad ke-15. Keduanya tutup setiap Jumat.
Contoh rencana perjalanan
Hari 1 (Sabtu–Kamis): Museum Aceh saat buka pukul 08.30 WIB untuk melihat Rumoh Aceh, lonceng Cakra Donya, dan galeri naskah (1–1,5 jam, selesai sebelum istirahat siang pukul 12.00–13.30 WIB) → jalan kaki kurang dari 1 km ke barat menuju Museum Tsunami Aceh untuk Lorong Tsunami, Sumur Doa, dan area evakuasi di atap (sekitar 1,5 jam) → Lapangan Blang Padang dan Kerkhof Peutjut di sebelahnya → Masjid Raya Baiturrahman, sekitar 11 menit berjalan kaki.
Waktu terbaik berkunjung
Datanglah saat museum buka, pukul 08.30 WIB di Museum Aceh dan 09.00 WIB di Museum Tsunami Aceh, pada hari apa pun kecuali Jumat. Libur sekolah dan akhir pekan panjang mendatangkan ribuan pengunjung per hari ke Museum Tsunami, sementara rombongan sekolah mendominasi pengunjung Museum Aceh. Selama Ramadan, Museum Tsunami mempersingkat jam bukanya dan tutup beberapa hari saat Idulfitri.