Museum Affandi
Yogyakarta · Indonesia · 1974
Photo: Kurniawn.bagas · CC BY-SA 4.0
Jawaban singkat
Museum Affandi melestarikan rumah, studio, dan galeri Affandi (1907–1990), pelukis ekspresionis paling terkenal di Indonesia, di tepi sungai di Jalan Laksda Adisucipto, sebelah timur pusat Kota Yogyakarta. Buka Senin–Sabtu: 09.00–16.00 WIB; tutup setiap hari Minggu. Tiket: Rp50.000 untuk wisatawan domestik; Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara (sudah termasuk minuman ringan dan suvenir). Luangkan waktu 1,5 jam.
Informasi pengunjung terakhir ditinjau 25 September 2026. Periksa situs resmi museum untuk informasi terbaru.
Museum Affandi sekilas: jam buka, harga tiket, dan lama kunjungan
| Jam buka | Senin–Sabtu: 09.00–16.00 WIB (Tutup setiap Minggu dan hari libur nasional) |
|---|---|
| Tutup | Minggu |
| Harga tiket | Rp50.000 untuk wisatawan domestik; Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara (sudah termasuk minuman ringan dan suvenir) |
| Gratis atau diskon | Potongan harga untuk pelajar/mahasiswa dan lansia berusia 60+ dengan kartu identitas yang berlaku · Tarif rombongan hingga 100 orang, dengan masuk gratis bagi pemandu, guru, atau dosen pendamping |
| Pemesanan | Tiket biasanya tersedia di hari yang sama |
| Waktu kunjungan | 1,5 jam |
| Waktu terbaik berkunjung | Pagi hari pada hari kerja setelah museum buka pukul 09.00 WIB adalah waktu paling sepi; hari Sabtu lebih banyak dikunjungi keluarga lokal. |
| Cara ke sana | Bus: TransJogja 1B, 4A, atau 5A ke Halte Solo SMA Debrito, atau 1A, 4B, atau 5B ke Halte Gedung Wanita — lalu berjalan kaki sekitar 400 m ke arah timur |
| Alamat | Jl. Laksda Adisucipto No. 167, Sleman, Special Region of Yogyakarta 55281, Indonesia |
| Situs resmi | affandi.org |
Diperiksa 25 September 2026 dengan situs resmi. Harga dan jam buka bisa berubah — pastikan sebelum berangkat.
Museum Affandi terkenal karena apa?
Affandi (1907–1990), kelahiran Cirebon, menjadi tokoh utama ekspresionisme Indonesia, terkenal karena memencet cat langsung dari tubenya dan mengolahnya dengan jari. Ia sendiri merancang rumah dan galeri pertamanya di tepi Sungai Gajah Wong, dan membiayai pembangunannya dari hasil penjualan lukisan. Galeri I rampung pada 1962 dan diresmikan pada 1974 oleh Ida Bagus Mantra, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Kebudayaan. Affandi tinggal di sini hingga wafat pada 23 Mei 1990 dan, sesuai keinginannya, dimakamkan di kompleks museum, tempat istrinya, Maryati, juga dimakamkan.
Kompleks seluas sekitar 3.500 meter persegi ini terletak di tepi sungai. Ciri paling terkenalnya adalah atap melengkung yang dirancang Affandi menyerupai daun pisang. Galeri II dibangun dengan dukungan Presiden Soeharto dan diresmikan pada 9 Juni 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan; Galeri III dibuka oleh Sultan Hamengkubuwono X pada 2000, disusul galeri keempat pada 2002. Rumah keluarga Affandi yang berlantai dua dan bertiang panggung kini menjadi Kafe Loteng, dan di kompleks ini juga terdapat studio, salah satunya Studio Gajah Wong yang digunakan untuk kelas melukis dan lokakarya.
Galeri I menelusuri perjalanan karier Affandi, dari potret-potret awal hingga kanvas ekspresionis di masa akhir hidupnya, serta memajang barang-barang pribadinya: mobil sedan Galant, sepeda tua, kuas, pakaian bernoda cat, penghargaan, dan kliping berita. Karya yang dipamerkan di museum antara lain lukisan masa revolusi Mata-Mata Musuh (1947) dan karya akhir Pengemis dari Tanjung Cirebon (1985), juga patung-patung perunggu. Galeri II menampilkan lukisan perupa Indonesia lainnya, termasuk Sudjojono, Hendra Gunawan, Basuki Abdullah, dan Popo Iskandar, sementara Galeri III memamerkan lukisan sulaman karya Maryati dan lukisan putri mereka, Kartika Affandi.
Museum ini berjarak sekitar 6 km di sebelah timur pusat Kota Yogyakarta, di Jalan Laksda Adisucipto, sekitar 400 meter berjalan kaki dari halte TransJogja. Tiket sudah termasuk minuman ringan dan suvenir, sedangkan memotret dikenai biaya tambahan Rp20.000 untuk kamera ponsel atau Rp30.000 untuk kamera DSLR. Makanan dan minuman tidak boleh dibawa ke dalam galeri, rombongan wajib memesan lebih dulu, dan museum ini ramah pengguna kursi roda, dengan jalur landai dan toilet yang aksesibel. Museum buka Senin–Sabtu dan tutup setiap Minggu.
Cocok untuk: Pencinta seni · Pencinta seni modern · Pengunjung pertama kali
Berapa lama waktu yang dibutuhkan di Museum Affandi?
Luangkan waktu 1,5 jam. Rute melingkar melewati empat galeri, rumah sang pelukis, dan makamnya di taman tepi sungai.
- 1
Galeri I
📍 Galeri I
Mulailah dari galeri pertama yang dibangun Affandi: ikuti perjalanan kariernya di sepanjang dinding yang melengkung dan temukan mobil Galant serta sepedanya.
- 2
Galeri II
📍 Galeri II
Lukisan para perupa sezaman Affandi, termasuk Sudjojono dan Hendra Gunawan, menempatkan ekspresionismenya dalam konteks.
- 3
Galeri III
📍 Galeri III
Lukisan sulaman Maryati dan lukisan Kartika Affandi memperlihatkan keluarga seniman di sekelilingnya.
- 4
Makam dan taman Affandi
📍 Kompleks museum
Berhentilah sejenak di makam Affandi dan Maryati, di tanah yang ia pilih sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.
- 5
Rumah dan Kafe Loteng
📍 Rumah Affandi
Tengadahkan kepala untuk melihat atap berbentuk daun pisang, lalu nikmati minuman yang sudah termasuk dalam tiket Anda.
Koleksi apa yang wajib dilihat di Museum Affandi?
Mobil Galant dan sepeda Affandi
Barang pribadi Affandi
📍 Galeri I
Sedan Galant GTO kesayangan Affandi, yang sering ia gunakan untuk bepergian, dipajang di antara lukisan bersama sepeda onthel tuanya — gambaran hidup keseharian sang pelukis.
Mata-Mata Musuh
Affandi · 1947
Lukisan dari masa revolusi Indonesia yang judulnya mencerminkan ketegangan perang kemerdekaan, saat Affandi terlibat erat dalam perjuangan kaum nasionalis.
Pengemis dari Tanjung Cirebon
Affandi · 1985
Karya akhir yang kembali pada salah satu subjek abadi Affandi — pengemis dan kaum miskin kota — dilukis dengan impasto tebal berpusar khas gaya matangnya.
Lukisan sulaman karya Maryati
Maryati · lukisan sulam
📍 Galeri III
Gambar-gambar yang dijahit dengan benang oleh Maryati, istri Affandi, dipamerkan di galeri keluarga bersama lukisan putri mereka, Kartika Affandi.
Makam Affandi dan Maryati
Kompleks museum
📍 Kompleks museum
Affandi dimakamkan di kompleks museum pada 1990 agar tetap dikelilingi keluarga dan karya-karyanya; Maryati dimakamkan di sampingnya.
Tips berkunjung ke Museum Affandi
- 1.
Waktu terbaik berkunjung
Pagi hari pada hari kerja setelah museum buka pukul 09.00 WIB adalah waktu paling sepi; hari Sabtu lebih banyak dikunjungi keluarga lokal. Museum tutup setiap Minggu, sehingga menjadi pilihan tepat pada hari Senin saat Sonobudoyo dan Ullen Sentalu tutup.
- 2.
Tiket & pemesanan
Beli tiket saat tiba — Rp50.000 domestik, Rp100.000 mancanegara, sudah termasuk minuman ringan dan suvenir. Pelajar/mahasiswa dan lansia 60+ mendapat potongan harga dengan kartu identitas; rombongan hingga 100 orang wajib memesan lebih dulu.
- 3.
Aksesibilitas
Museum menyatakan dirinya ramah pengguna kursi roda, dengan jalur landai, jalur khusus, toilet aksesibel, dan parkir aksesibel di dekat pintu masuk; petugas dapat membantu jika Anda menghubungi mereka sebelumnya.
- 4.
Aturan foto
Memotret memerlukan tiket kamera: Rp20.000 untuk ponsel, Rp30.000 untuk DSLR. Liputan media dan pemotretan profesional memerlukan izin terlebih dahulu.
Bagaimana cara ke Museum Affandi?
- Bus TransJogja 1B, 4A, atau 5A ke Halte Solo SMA Debrito, atau 1A, 4B, atau 5B ke Halte Gedung Wanita — lalu berjalan kaki sekitar 400 m ke arah timur
- Taksi Grab, Gojek, atau taksi dari Malioboro melalui Jalan Laksda Adisucipto — sekitar 20 menit
- Mobil Tersedia area parkir yang aman untuk mobil dan sepeda motor di Jl. Laksda Adisucipto 167
Alamat: Jl. Laksda Adisucipto No. 167, Sleman, Special Region of Yogyakarta 55281, Indonesia
Museum Affandi: pertanyaan yang sering diajukan
Berapa harga tiket masuk Museum Affandi?
Harga tiket masuk Rp50.000 untuk wisatawan domestik dan Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara, sudah termasuk minuman ringan gratis dan suvenir. Pelajar/mahasiswa serta lansia berusia 60 tahun ke atas mendapat potongan harga dengan kartu identitas yang berlaku, dan rombongan hingga 100 orang mendapat tarif khusus. Memotret dikenai biaya tambahan: Rp20.000 untuk kamera ponsel atau Rp30.000 untuk kamera DSLR.
Bagaimana cara ke Museum Affandi?
Museum ini berada di Jalan Laksda Adisucipto 167, di sebelah timur pusat kota. TransJogja jalur 1B, 4A, dan 5A berhenti di Halte Solo SMA Debrito, sedangkan jalur 1A, 4B, dan 5B berhenti di Halte Gedung Wanita; dari kedua halte, museum dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar 400 meter ke arah timur. Taksi atau Grab/Gojek dari Malioboro memakan waktu sekitar 20 menit, tergantung lalu lintas, dan tersedia area parkir di lokasi.
Apa saja yang bisa dilihat di Museum Affandi?
Galeri I menelusuri perjalanan karier Affandi dan memajang barang-barang pribadinya, termasuk sedan Galant kesayangannya, sepeda tua, kuas, dan pakaian bernoda cat. Galeri II menampilkan karya sesama perupa Indonesia seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Basuki Abdullah, sedangkan Galeri III didedikasikan untuk keluarganya, dengan lukisan sulaman karya istrinya, Maryati, dan lukisan putrinya, Kartika. Rumah dan makam Affandi melengkapi kunjungan.
Berapa lama sebaiknya berkunjung?
Sediakan sekitar 1,5 jam untuk melihat keempat galeri, rumah beratap daun, area studio, dan makam Affandi, sambil menikmati minuman yang sudah termasuk dalam tiket. Pencinta seni yang ingin mengamati karya para perupa sezaman Affandi di Galeri II atau karya keluarganya di Galeri III mungkin membutuhkan hampir dua jam.
Apakah museum ini ramah pengguna kursi roda?
Ya — museum menyatakan dirinya ramah pengguna kursi roda, dengan jalur landai, jalur khusus, toilet aksesibel, dan parkir aksesibel di dekat pintu masuk, serta petugas yang terlatih membantu pengunjung berkebutuhan khusus. Beberapa galeri memiliki lantai atas, jadi hubungi museum lebih dulu jika Anda memiliki kebutuhan akses tertentu.
Siapakah Affandi?
Affandi (1907–1990) lahir di Cirebon dan menjadi pelukis ekspresionis paling termasyhur di Indonesia, dikenal karena memencet cat langsung dari tubenya dan membentuknya dengan jari. Ia banyak berpameran dan berkelana ke India, Eropa, dan benua Amerika. Ia tinggal di kompleks tepi sungai ini hingga wafat pada 23 Mei 1990 dan, sesuai keinginannya, dimakamkan di sana di tengah keluarga dan karya-karyanya.
Apakah Museum Affandi gratis?
Tidak untuk semua pengunjung. Harga tiket masuk standar: Rp50.000 untuk wisatawan domestik; Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara (sudah termasuk minuman ringan dan suvenir). Tiket gratis atau potongan harga: Potongan harga untuk pelajar/mahasiswa dan lansia berusia 60+ dengan kartu identitas yang berlaku; Tarif rombongan hingga 100 orang, dengan masuk gratis bagi pemandu, guru, atau dosen pendamping.
Jam berapa Museum Affandi buka?
Museum Affandi buka Senin–Sabtu: 09.00–16.00 WIB (Tutup setiap Minggu dan hari libur nasional). Jam buka dapat berubah saat hari libur, jadi periksa situs resmi sebelum berkunjung.
Apakah Museum Affandi buka hari Minggu?
Tidak — Museum Affandi tutup setiap hari Minggu. Rencanakan kunjungan ke museum lain pada hari tersebut dan periksa situs resmi untuk perubahan jam saat hari libur.