Museum Siwalima
Photo: Zhilal Darma · CC BY-SA 4.0
Jawaban singkat
Museum Siwalima adalah museum provinsi Maluku yang berdiri di atas bukit menghadap Teluk Ambon di Taman Makmur, Amahusu, sekitar 5 km dari pusat Kota Ambon. Buka Senin–Kamis: 08.00–16.00 WIT; Jumat: 08.00–16.30 WIT; Sabtu: 09.00–16.00 WIT; Minggu: 11.00–16.00 WIT. Tiket: Rp5.000 per orang. Luangkan waktu 1–1,5 jam.
Informasi pengunjung terakhir ditinjau 22 Oktober 2026. Periksa situs resmi museum untuk informasi terbaru.
Museum Siwalima sekilas: jam buka, harga tiket, dan lama kunjungan
| Jam buka | Senin–Kamis: 08.00–16.00 WIT; Jumat: 08.00–16.30 WIT; Sabtu: 09.00–16.00 WIT; Minggu: 11.00–16.00 WIT (Tutup pada hari libur nasional) |
|---|---|
| Harga tiket | Rp5.000 per orang |
| Pemesanan | Tiket biasanya tersedia di hari yang sama |
| Waktu kunjungan | 1–1,5 jam |
| Waktu terbaik berkunjung | Pagi hari pada hari kerja, saat museum buka pukul 08.00 WIT; pada Sabtu museum buka pukul 09.00 dan pada Minggu baru pukul 11.00. |
| Cara ke sana | Taksi: Taksi atau taksi online dari pusat Kota Ambon ke Taman Makmur, Amahusu, Kecamatan Nusaniwe — sekitar 5 km |
| Alamat | Taman Makmur, Amahusu, Nusaniwe, Ambon, Maluku, Indonesia |
| Situs resmi | museum.kemenbud.go.id |
Diperiksa 22 Oktober 2026 dengan situs resmi. Harga dan jam buka bisa berubah — pastikan sebelum berangkat.
Museum Siwalima terkenal karena apa?
Museum Siwalima berawal dari pameran benda-benda koleksi Gereja Protestan Maluku (GPM) pada 1971, yang kemudian diserahkan kepada perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Menyusul kemudian koleksi asal Maluku Tenggara yang disita dari dua peneliti asing pada 1972/1973. Pada 8 November 1973, Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Ida Bagus Mantra, didampingi Direktur Permuseuman Drs. Amir Sutarga, meresmikan museum provinsi ini di Karang Panjang, Ambon, dengan nama Siwalima, dan peresmiannya secara formal dilakukan pada 26 Maret 1977. Museum ini milik Pemerintah Provinsi Maluku dan dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku.
Namanya menggabungkan kata siwa (sembilan) dan lima, yang merujuk pada dua kelompok tradisional masyarakat Maluku: Patasiwa dan Patalima di Maluku Tengah, serta Ursiw dan Urlim di Maluku Tenggara. Lokasinya kini di Taman Makmur, Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, di atas bukit yang menghadap Teluk Ambon sekitar 5 km dari pusat kota, dan pengunjung disambut tulisan Usu mae upu, yang berarti 'mari silakan masuk', di pintu masuk. Awalnya museum ini hanya menyimpan koleksi budaya dan benda adat Maluku, lalu seiring waktu bertambah tiga ruang pamer.
Lebih dari 5.300 koleksi terdaftar dalam sepuluh jenis, mulai dari spesimen geologi dan biologi hingga etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik dan heraldik, naskah, keramik, teknologi, dan seni rupa. Sekitar 2.000 di antaranya patung etnografi, terlalu banyak untuk dipamerkan sekaligus. Ruang-ruang pamernya meliputi busana pengantin Nusantara dengan fokus pada Maluku; sejarah dan budaya Maluku, berisi rumah adat, pakaian adat, alat pertanian, senjata tradisional, benda upacara, mata uang lama, dan guci; serta kelautan dan alat transportasi, tempat kerangka paus dan buaya dipajang. Banyak koleksinya berasal dari Maluku Tenggara Barat, Maluku Barat Daya, dan Maluku Tengah, termasuk keramik Dinasti Ming dari pulau-pulau di selatan.
Museum buka Senin–Kamis pukul 08.00–16.00 WIT, Jumat hingga 16.30, Sabtu mulai 09.00, dan Minggu mulai 11.00, tutup pukul 16.00, serta tutup pada hari libur nasional. Tiket masuknya Rp5.000. Tersedia pemanduan keliling seluruh museum, dan pertunjukan musik, tari, serta peragaan tenun dapat diatur atas permintaan. Gedung-gedungnya pernah membutuhkan perbaikan — pada 2021 museum melaporkan kerusakan atap dan plafon serta mengupayakan dana untuk gedung pameran utama dan ruang kelautan — jadi tanyakan apakah ada ruang yang ditutup sebelum berangkat ke Amahusu.
Cocok untuk: Pencinta sejarah · Keluarga · Pengunjung pertama kali
Koleksi apa yang wajib dilihat di Museum Siwalima?
Patung etnografi Maluku
Masyarakat Maluku · patung ritual dan leluhur
Sekitar 2.000 patung ukir menjadi inti koleksi etnografi; hanya sebagian yang bisa dipamerkan sekaligus, dan sebagian lainnya pernah ditampilkan lewat foto.
Kerangka paus
Fauna laut perairan Maluku
📍 Ruang kelautan
Kerangka paus yang dipajang bersama kerangka buaya di ruang yang membahas laut dan alat transportasi tradisional Maluku.
Keramik Dinasti Ming
Tiongkok · Dinasti Ming
Keramik dagang Tiongkok yang sampai ke pulau-pulau di selatan Maluku, dikumpulkan dari Maluku Tenggara Barat dan Maluku Barat Daya.
Busana pengantin Nusantara
Maluku dan daerah lain di Indonesia
📍 Ruang busana pengantin
Galeri busana pengantin dari berbagai daerah di Nusantara, dengan perhatian khusus pada tradisi pernikahan Maluku.
Koleksi dan sorotan
- • Patung etnografi dan ritual
- • Pakaian adat dan busana pengantin
- • Senjata, alat pertanian, dan benda upacara
- • Mata uang lama dan guci
- • Keramik Dinasti Ming
- • Koleksi kelautan, termasuk kerangka paus dan buaya
- • Spesimen geologi dan biologi
Tips berkunjung ke Museum Siwalima
- 1.
Waktu terbaik berkunjung
Pagi hari pada hari kerja, saat museum buka pukul 08.00 WIT; pada Sabtu museum buka pukul 09.00 dan pada Minggu baru pukul 11.00. Tutup pada hari libur nasional.
- 2.
Tiket & pemesanan
Rp5.000 di pintu masuk. Tidak ada pemesanan daring yang diumumkan; hubungi museum lebih dulu bila ingin dipandu atau menyaksikan pertunjukan musik, tari, atau peragaan tenun.
- 3.
Aksesibilitas
Tidak ada informasi aksesibilitas yang diumumkan; museum berada di lereng bukit, jadi hubungi museum sebelum berkunjung bila Anda memerlukan akses tanpa tangga.
- 4.
Aturan foto
Tidak ada aturan fotografi yang diumumkan. Minta izin petugas sebelum memotret, terutama patung leluhur dan benda upacara, dan matikan lampu kilat di dekat kain.
Bagaimana cara ke Museum Siwalima?
- Taksi Taksi atau taksi online dari pusat Kota Ambon ke Taman Makmur, Amahusu, Kecamatan Nusaniwe — sekitar 5 km
- Mobil Dengan mobil sewaan atau sepeda motor dari pusat kota; museum berada di atas bukit yang menghadap Teluk Ambon, sekitar 5 km dari pusat Kota Ambon
Alamat: Taman Makmur, Amahusu, Nusaniwe, Ambon, Maluku, Indonesia
Sumber yang kami periksa
Fakta pengunjung dan sejarah di halaman ini berasal dari sumber berikut, diperiksa pada tanggal yang tertera.
- UPTD Museum Siwalima Provinsi Maluku — Sistem Registrasi Nasional Museum — Ministry of Culture of the Republic of Indonesia, 22 Oktober 2026
- UPTD Museum Siwalima Provinsi Maluku — Wonderful Indonesia / Ministry of Tourism, 22 Oktober 2026
- Museum Siwalima — Wikipedia (Bahasa Indonesia), 22 Oktober 2026
- Museum Siwalima Ambon akan buka ruang pameran foto (4 February 2021) — ANTARA Ambon, 22 Oktober 2026
Museum Siwalima: pertanyaan yang sering diajukan
Berapa harga tiket masuk Museum Siwalima?
Tiket masuk Rp5.000 per orang, sesuai tarif yang tercantum untuk setiap hari buka di sistem registrasi museum nasional Kementerian Kebudayaan. Bayar di pintu masuk; tidak ada sistem pemesanan daring yang diumumkan. Museum menyediakan pemanduan keliling seluruh ruang, dan pertunjukan musik, tari, atau peragaan tenun bisa diatur atas permintaan, jadi tanyakan saat tiba atau hubungi museum lebih dulu.
Di mana lokasi Museum Siwalima dan bagaimana cara ke sana?
Museum berdiri di atas bukit yang menghadap Teluk Ambon di Taman Makmur, Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, sekitar 5 km dari pusat kota. Cara termudah ke sana adalah naik taksi, taksi online, mobil sewaan, atau sepeda motor; sebutkan tujuan Museum Siwalima di Taman Makmur dan sepakati perjalanan pulang bila tidak membawa kendaraan sendiri.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling Museum Siwalima?
Sediakan 1–1,5 jam untuk melihat ruang busana pengantin Nusantara, ruang sejarah dan budaya Maluku, serta ruang kelautan dengan kerangka paus dan buaya. Tambahkan waktu bila ingin dipandu atau menyaksikan pertunjukan musik, tari, atau peragaan tenun yang sudah dipesan, dan untuk menikmati pemandangan Teluk Ambon dari halaman museum di atas bukit.
Apa saja koleksi unggulan Museum Siwalima?
Carilah patung-patung etnografi — museum menyimpan sekitar 2.000 buah, lebih banyak dari yang bisa dipamerkan — kerangka paus dan buaya di ruang kelautan, rumah adat, pakaian adat, senjata, dan benda upacara di ruang sejarah Maluku, mata uang lama dan guci, keramik Dinasti Ming dari pulau-pulau di selatan Maluku, serta galeri busana pengantin dari seluruh Nusantara.
Bolehkah memotret di dalam Museum Siwalima?
Museum tidak mengumumkan aturan fotografi. Minta izin petugas sebelum memotret di dalam, terutama di dekat patung leluhur dan benda upacara yang bermakna bagi masyarakat Maluku, dan matikan lampu kilat di dekat kain serta busana pengantin. Dari halaman museum di atas bukit, Anda bisa memandang Teluk Ambon.
Apa arti nama Siwalima?
Siwalima menggabungkan kata siwa (sembilan) dan lima, nama dua kelompok tradisional masyarakat Maluku — Patasiwa dan Patalima di Maluku Tengah, serta Ursiw dan Urlim di Maluku Tenggara. Tulisan Usu mae upu, yang berarti 'mari silakan masuk', menyambut pengunjung di pintu masuk, dan koleksinya mencerminkan masyarakat dari seluruh provinsi.
Apakah Museum Siwalima buka hari Minggu?
Ya, tetapi lebih siang dibanding hari lain. Menurut sistem registrasi Kementerian Kebudayaan, museum buka pada Minggu pukul 11.00–16.00 WIT, pada Sabtu mulai 09.00, dan pada hari kerja mulai 08.00, tutup pukul 16.00 (Jumat pukul 16.30). Museum tutup pada hari libur nasional.
Apakah Museum Siwalima gratis?
Tidak. Tiket masuk Rp5.000 per orang, dibayar di pintu masuk. Museum juga tutup pada hari libur nasional, jadi pastikan jadwal Anda sebelum berangkat ke Amahusu.
Jam berapa Museum Siwalima buka?
Museum Siwalima buka Senin–Kamis: 08.00–16.00 WIT; Jumat: 08.00–16.30 WIT; Sabtu: 09.00–16.00 WIT; Minggu: 11.00–16.00 WIT (Tutup pada hari libur nasional). Jam buka dapat berubah saat hari libur, jadi periksa situs resmi sebelum berkunjung.