Agung Rai Museum of Art (ARMA)
Photo: Harditaher · CC BY-SA 4.0
Jawaban singkat
Agung Rai Museum of Art (ARMA) di Pengosekan, Ubud, dibuka pada 1996 untuk memamerkan seni lukis Bali, dari karya klasik Kamasan hingga seni kontemporer, bersama karya Walter Spies, Raden Saleh, dan seniman lain yang terkait dengan Bali. Buka setiap hari: 09.00–18.00 WITA. Tiket: Rp150.000 untuk dewasa; gratis untuk anak di bawah 6 tahun. Luangkan waktu 2 jam.
Informasi pengunjung terakhir ditinjau 1 September 2026. Periksa situs resmi museum untuk informasi terbaru.
Agung Rai Museum of Art (ARMA) sekilas: jam buka, harga tiket, dan lama kunjungan
| Jam buka | Setiap hari: 09.00–18.00 WITA |
|---|---|
| Harga tiket | Rp150.000 untuk dewasa; gratis untuk anak di bawah 6 tahun |
| Gratis atau diskon | Anak di bawah 6 tahun: gratis |
| Pemesanan | Tiket biasanya tersedia di hari yang sama |
| Waktu kunjungan | 2 jam |
| Waktu terbaik berkunjung | Pagi hari mulai pukul 09.00 WITA adalah waktu paling sejuk dan sepi di galeri. |
| Cara ke sana | Jalan kaki: Dari Puri Ubud, berjalan ke selatan menyusuri Jalan Hanoman hingga Jalan Raya Pengosekan — sekitar 30 menit |
| Alamat | Jalan Raya Pengosekan, Ubud, Gianyar, Bali 80571, Indonesia |
| Situs resmi | armabali.com |
Diperiksa 1 September 2026 dengan situs resmi. Harga dan jam buka bisa berubah — pastikan sebelum berangkat.
Agung Rai Museum of Art (ARMA) terkenal karena apa?
ARMA didirikan oleh Anak Agung Gde Rai, yang dikenal sebagai Agung Rai, kolektor Bali yang memulai kariernya sebagai penjual lukisan dan mengabdikan hidupnya untuk melestarikan serta mengembangkan seni dan budaya Bali. Yayasan ARMA didirikan pada 13 Mei 1996, dan museum ini diresmikan pada 9 Juni 1996 oleh Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Tujuan yang dicanangkannya adalah mengoleksi dan melestarikan karya seni, mengembangkan seni lukis, seni patung, tari, musik, dan bentuk seni lainnya, serta menyediakan tempat bagi masyarakat setempat untuk mempelajari keterampilan seni.
Museum ini terdiri atas serangkaian bangunan bergaya Bali, dibangun dalam skala yang lebih megah daripada arsitektur tradisional dan sebisa mungkin menggunakan bahan-bahan lokal. Dua galeri utama menjadi pusatnya: Bale Daja seluas sekitar 3.300 meter persegi dan Bale Dauh seluas sekitar 1.200 meter persegi. Keduanya berdiri di antara taman, kolam, dan air mancur dengan pemandangan ke arah sawah di sekitarnya. Di kompleks ini juga terdapat panggung terbuka, perpustakaan dan ruang baca, toko buku, ARMA Resort, ARMA Restaurant, serta kedai kopi Warung Kopi.
Koleksi tetapnya memadukan karya milik Yayasan ARMA dengan pinjaman dari Agung Rai dan istrinya. Rentangnya mulai dari lukisan klasik Kamasan di atas kulit kayu dan mahakarya aliran Batuan dari era 1930-an dan 1940-an hingga karya modern dan kontemporer. Para maestro Bali yang karyanya dipamerkan antara lain I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made, Anak Agung Gde Sobrat, dan I Gusti Made Deblog, sementara seniman asing yang pernah berkarya di Bali diwakili oleh Rudolf Bonnet, Willem Gerard Hofker, dan Willem Dooijewaard. Museum ini juga memamerkan lukisan Walter Spies dan maestro Jawa abad ke-19, Raden Saleh.
ARMA sama pentingnya sebagai panggung seni pertunjukan maupun sebagai galeri. Panggung terbukanya menggelar pertunjukan setiap malam pukul 19.00 WITA — termasuk Kecak pada hari Senin dan Rabu, Legong pada hari Kamis, dan Sendratari Ramayana pada hari Jumat — sebagian besar dengan harga Rp150.000 per orang. Lokakarya yang tersedia meliputi melukis, membatik, membuat sesajen, gamelan rindik, dan lainnya, serta ada ceramah dan tur jalan kaki selama dua jam melewati Bale Daja dan Bale Dauh yang mengulas sejarah seni lukis Bali. Museum ini terletak di selatan pusat Ubud, di Jalan Raya Pengosekan.
Cocok untuk: Pencinta seni · Penikmat budaya · Pengunjung pertama kali
Berapa lama waktu yang dibutuhkan di Agung Rai Museum of Art (ARMA)?
Luangkan waktu 2 jam. Rute melewati kedua galeri utama — lukisan klasik dan maestro Bali di Bale Daja; Spies, Saleh, dan Hofker di Bale Dauh — lalu berakhir di taman.
- 1
Lukisan Kamasan dan Batuan
📍 Bale Daja
Mulailah dengan karya klasik bergaya wayang, termasuk Pemutaran Lautan Susu karya Mangku Mura, lalu adegan-adegan padat aliran Batuan dari era 1930-an dan 1940-an.
- 2
Gambar karya Lempad
📍 Bale Daja
Amati dengan saksama garis tinta Lempad dalam karya seperti Jiwa-Jiwa yang Dihukum di Neraka dan Tari Sang Hyang Jaran.
- 3
Walter Spies — Calonarang
📍 Bale Dauh
Lukisan-lukisan Spies adalah harta ARMA yang paling terkenal; Calonarang (1930) memperlihatkan gayanya yang berlapis-lapis dan bak mimpi.
- 4
Raden Saleh dan Hofker
📍 Bale Dauh
Bandingkan potret ganda karya Raden Saleh tahun 1837 dengan pastel halus Hofker yang menggambarkan para penari Bali.
- 5
Taman dan panggung terbuka
📍 Area museum
Berjalanlah melewati kolam dan air mancur ke arah pemandangan sawah, lalu cek jadwal pertunjukan malam itu di panggung terbuka.
Koleksi apa yang wajib dilihat di Agung Rai Museum of Art (ARMA)?
Calonarang
Walter Spies · 1930
📍 Bale Dauh
Lukisan cat minyak di atas kanvas (56 × 46 cm) karya seniman Jerman yang membentuk dunia seni Bali pada 1930-an, dinamai menurut drama penyihir Calonarang dalam seni tari dan teater Bali.
Potret Bangsawan Jawa dan Istrinya
Raden Saleh · 1837
📍 Bale Dauh
Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran besar (192 × 127 cm) karya pelukis perintis Jawa abad ke-19; ARMA menonjolkan karya-karya Raden Saleh miliknya sebagai satu-satunya yang dapat dilihat di Bali.
Penari Legong, Ni Sadri
Willem Gerard Hofker · 1943
📍 Bale Dauh
Potret pastel seorang penari Legong karya seniman Belanda Hofker, yang studi figurnya yang cermat merekam para penari Bali di akhir masa kolonial.
Jiwa-Jiwa yang Dihukum di Neraka
I Gusti Nyoman Lempad · 1930-an
📍 Bale Daja
Gambar tinta berukuran kecil (23 × 34 cm) dalam gaya garis Lempad yang mengalir — maestro Ubud ini mengilustrasikan cerita rakyat Bali dan epos Hindu dengan figur-figur ramping yang penuh energi.
Pemutaran Lautan Susu
Mangku Mura · gaya Kamasan
📍 Bale Daja
Lukisan besar dengan pigmen alami di atas papan (142 × 114 cm) karya maestro Kamasan Mangku Mura, menggambarkan para dewa dan raksasa mengaduk samudra untuk mendapatkan tirta amerta, air keabadian.
Tips berkunjung ke Agung Rai Museum of Art (ARMA)
- 1.
Waktu terbaik berkunjung
Pagi hari mulai pukul 09.00 WITA adalah waktu paling sejuk dan sepi di galeri. Sebagai alternatif, datanglah pada sore hari dan tetap tinggal untuk menyaksikan pertunjukan tari pukul 19.00 WITA di panggung terbuka.
- 2.
Tiket & pemesanan
Rp150.000 untuk dewasa (anak di bawah 6 tahun gratis), dibayar di museum atau melalui tautan pemesanan di armabali.com. Pertunjukan tari (sebagian besar Rp150.000; pertunjukan dengan makan malam pada hari Sabtu Rp350.000) dan lokakarya dipesan terpisah.
- 3.
Aksesibilitas
Galeri berupa bangunan terpisah yang tersebar di area bertaman dengan jalan setapak dan beberapa anak tangga; hubungi +62 361 976 659 sebelumnya untuk membicarakan akses kursi roda.
- 4.
Aturan foto
Memotret tanpa lampu kilat untuk keperluan pribadi umumnya diperbolehkan; matikan lampu kilat di dekat karya di atas kertas dan minta izin sebelum memotret pertunjukan.
Bagaimana cara ke Agung Rai Museum of Art (ARMA)?
- Jalan kaki Dari Puri Ubud, berjalan ke selatan menyusuri Jalan Hanoman hingga Jalan Raya Pengosekan — sekitar 30 menit
- Taksi Taksi, Grab, atau Gojek dari pusat Ubud — hanya beberapa menit; dari Bandara Internasional Ngurah Rai, perkirakan 1–1,5 jam
- Mobil Sopir pribadi atau sepeda motor ke Jalan Raya Pengosekan; museum berbagi area dengan ARMA Resort
Alamat: Jalan Raya Pengosekan, Ubud, Gianyar, Bali 80571, Indonesia
Agung Rai Museum of Art (ARMA): pertanyaan yang sering diajukan
Berapa harga tiket masuk Museum ARMA?
Harga tiket masuk resmi ARMA adalah Rp150.000 per orang dewasa, dan anak di bawah 6 tahun gratis. Tiket dapat dibeli di museum atau melalui tautan pemesanan di armabali.com. Pertunjukan tari malam memiliki tiket terpisah: sebagian besar Rp150.000 per orang, sedangkan pertunjukan Kecak Sang Hyang Jaran pada hari Sabtu dengan musik langsung dan makan malam prasmanan seharga Rp350.000.
Pertunjukan tari apa saja yang digelar di ARMA?
Panggung terbuka menggelar pertunjukan pukul 19.00 WITA: Kecak pada hari Senin dan Rabu, Barong pada hari Selasa, Legong Lasem Peliatan pada hari Kamis, Sendratari Ramayana pada hari Jumat, Kecak Sang Hyang Jaran dengan makan malam pada hari Sabtu, dan Barong Prakpak pada hari Minggu. Sebagian besar pertunjukan dikenai Rp150.000 per orang; cek armabali.com untuk program terbaru dan pemesanan.
Bagaimana cara ke ARMA dari pusat Ubud?
ARMA berada di Jalan Raya Pengosekan, di selatan pusat Ubud. Dari Puri Ubud, jaraknya sekitar 30 menit berjalan kaki ke selatan menyusuri Jalan Hanoman, atau beberapa menit dengan taksi, Grab, atau Gojek. Di Ubud tidak ada bus umum yang praktis bagi wisatawan, jadi kebanyakan orang berjalan kaki, naik sepeda motor, atau memakai jasa sopir. Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, perkirakan sekitar 1–1,5 jam dengan mobil.
Berapa lama sebaiknya berkunjung ke ARMA?
Sediakan 2 jam untuk melihat sorotan Agung Rai Museum of Art (ARMA). Rute 5 perhentian kami — lukisan Kamasan dan Batuan, gambar karya Lempad, Walter Spies — Calonarang, dan lainnya — dirancang pas untuk durasi tersebut. Tambahkan waktu untuk pameran temporer, toko suvenir, dan kafe.
Bolehkah memotret di ARMA?
Menurut berbagai panduan wisata, memotret tanpa lampu kilat untuk keperluan pribadi umumnya diperbolehkan di galeri dan taman. Matikan lampu kilat di dekat karya di atas kertas, seperti gambar tinta Lempad dan pastel Hofker, yang peka terhadap cahaya, dan perhatikan rambu atau tanyakan kepada petugas di pameran temporer dan selama pertunjukan.
Apa yang membedakan ARMA dari museum lain di Ubud?
ARMA memadukan koleksi lukisan yang luas — dari lukisan Kamasan di atas kulit kayu dan karya Batuan era 1930-an hingga seni kontemporer — dengan program seni pertunjukan dan lokakarya budaya di satu lokasi. ARMA juga menjadi tempat untuk melihat karya Walter Spies dan Raden Saleh di Bali, sementara Museum Puri Lukisan berfokus pada era Pitamaha dan Museum Seni Neka menambahkan koleksi keris serta sejarah seni lukis Bali yang disajikan dari paviliun ke paviliun.
Apakah Agung Rai Museum of Art (ARMA) gratis?
Tidak untuk semua pengunjung. Harga tiket masuk standar: Rp150.000 untuk dewasa; gratis untuk anak di bawah 6 tahun. Tiket gratis atau potongan harga: Anak di bawah 6 tahun: gratis.
Jam berapa Agung Rai Museum of Art (ARMA) buka?
Agung Rai Museum of Art (ARMA) buka setiap hari: 09.00–18.00 WITA. Jam buka dapat berubah saat hari libur, jadi periksa situs resmi sebelum berkunjung.
Apakah Agung Rai Museum of Art (ARMA) buka hari Senin?
Ya — Agung Rai Museum of Art (ARMA) buka setiap hari, termasuk Senin dan Minggu: Setiap hari: 09.00–18.00 WITA. Periksa situs resmi untuk jam buka saat hari libur.