Museum Le Mayeur
Photo: Andy Mabbett · CC BY-SA 4.0
Jawaban singkat
Museum Le Mayeur adalah rumah di tepi Pantai Sanur tempat pelukis Belgia Adrien-Jean Le Mayeur tinggal bersama istrinya, penari Legong Ni Nyoman Pollok, yang diserahkan kepada negara pada 1957. Buka setiap hari: 08.00–16.00 WITA. Tiket: Rp10.000 untuk dewasa; Rp5.000 untuk anak-anak; tarif wisatawan mancanegara (tidak dipublikasikan secara daring). Luangkan waktu 45 menit.
Informasi pengunjung terakhir ditinjau 22 Oktober 2026. Periksa situs resmi museum untuk informasi terbaru.
Museum Le Mayeur sekilas: jam buka, harga tiket, dan lama kunjungan
| Jam buka | Setiap hari: 08.00–16.00 WITA (Tutup pada hari libur) |
|---|---|
| Harga tiket | Rp10.000 untuk dewasa; Rp5.000 untuk anak-anak; tarif wisatawan mancanegara (tidak dipublikasikan secara daring) |
| Gratis atau diskon | Anak-anak: Rp5.000 |
| Pemesanan | Tiket biasanya tersedia di hari yang sama |
| Waktu kunjungan | 45 menit |
| Waktu terbaik berkunjung | Pagi hari, tak lama setelah buka pukul 08.00 WITA, saat Sanur masih sejuk. |
| Cara ke sana | Jalan kaki: Di tepi pantai Jalan Hang Tuah, Sanur Kaja, sedikit di utara Hotel Grand Bali Beach — mudah dicapai dengan berjalan kaki menyusuri pesisir Sanur |
| Alamat | Jl. Hang Tuah, Sanur Kaja, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali 80227, Indonesia |
| Situs resmi | denpasartourism.com |
Diperiksa 22 Oktober 2026 dengan situs resmi. Harga dan jam buka bisa berubah — pastikan sebelum berangkat.
Museum Le Mayeur terkenal karena apa?
Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres lahir di Brussel pada 9 Februari 1880 dan berlatar belakang insinyur bangunan sebelum menekuni seni lukis. Ia tiba di Bali lewat jalur laut di Singaraja pada awal 1930-an, menyewa rumah di Denpasar, dan di sana berkenalan dengan Ni Nyoman Pollok, penari Legong Keraton tersohor dari Banjar Kelandis yang kemudian menjadi model utamanya. Lukisan-lukisan tentang Ni Pollok dipamerkan di Singapura dan kemudian Kuala Lumpur, dan keduanya menikah pada 1935. Dari hasil penjualan karyanya, Le Mayeur membeli tanah seluas 32 are di tepi Pantai Sanur, tempat pasangan ini membangun rumah secara bertahap.
Pengagum Le Mayeur antara lain Presiden Soekarno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, dan Bahder Djohan, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, yang berkunjung pada 1956 dan mengusulkan agar rumah itu dijadikan museum. Pada 28 Agustus 1957, Le Mayeur menyerahkan akta hibah kepada Ni Pollok, yang kemudian menyerahkan rumah beserta isinya kepada Republik Indonesia. Kini museum dikelola di bawah Museum Bali oleh pemerintah provinsi. Kompleksnya terdiri atas tujuh bangunan yang berjejer dari utara ke selatan: loket, bale bengong, bale pecanangan, gedung induk, dapur, gedung laboratorium, dan artshop.
Koleksinya berjumlah 88 karya Le Mayeur. Banyak di antaranya dilukis di atas media yang tak lazim — 28 di atas kanvas, 25 di atas hardboard, dan 22 di atas bagor (karung goni), selebihnya di atas tripleks dan kertas — karena kanvas dan bahan lain sulit didapat selama Perang Dunia II dan pendudukan Jepang. Lukisan yang dibuatnya sebelum ke Bali hampir seluruhnya bertema alam, sedangkan karya-karya Bali menonjolkan sosok perempuan, terutama Ni Pollok. Perabot, peralatan melukis, serta dokumentasi tentang pasangan ini melengkapi pameran di ruang-ruang berukir gedung induk.
Lokasinya di tepi pantai sekaligus menjadi tantangan konservasi terbesar. Pada Agustus 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut warna sejumlah lukisan memudar, terutama karya di atas karung, dan mengumumkan bahwa tim dari Galeri Nasional akan meninjau kondisinya. Museum ini tergolong sepi, rata-rata sekitar 100 pengunjung per bulan dan sebagian besar wisatawan Eropa. Museum buka setiap hari pukul 08.00–16.00 WITA kecuali hari libur, dengan tiket Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak, sehingga cocok menjadi persinggahan murah saat pagi di Sanur.
Cocok untuk: Pencinta seni · Pencinta arsitektur · Wisatawan hemat
Koleksi apa yang wajib dilihat di Museum Le Mayeur?
The Garuda's Dance
Adrien-Jean Le Mayeur · 1942
📍 Ruang pamer, gedung induk
Dilukis dengan cat air dan cat di atas tikar rumput — contoh media darurat yang dipakai Le Mayeur pada masa perang.
Lukisan di atas bagor (karung goni)
Adrien-Jean Le Mayeur · masa Perang Dunia II
📍 Ruang I dan II
Dua puluh dua karya yang dilukis di atas karung ketika kanvas langka; warnanya yang memudar mendorong peninjauan konservasi oleh Kementerian Kebudayaan pada 2026.
Potret Ni Pollok
Adrien-Jean Le Mayeur · periode Bali
Lukisan-lukisan Bali karya Le Mayeur berpusat pada sosok perempuan, terutama istri sekaligus muse-nya, penari Legong Keraton Ni Nyoman Pollok.
Gedung induk
Adrien-Jean Le Mayeur dan Ida Bagus Made Mas
📍 Gedung induk
Rumah berukir pasangan ini di tepi pantai, lengkap dengan perabot dan peralatan melukis Le Mayeur, menjadi inti kompleks tujuh bangunan.
Koleksi dan sorotan
- • Lukisan di atas kanvas dan hardboard
- • Karya di atas bagor, tripleks, dan kertas
- • Potret Ni Nyoman Pollok
- • Lukisan pemandangan sebelum periode Bali
- • Perabot dan peralatan melukis Le Mayeur
- • Dokumentasi tentang Le Mayeur dan Ni Pollok
Tips berkunjung ke Museum Le Mayeur
- 1.
Waktu terbaik berkunjung
Pagi hari, tak lama setelah buka pukul 08.00 WITA, saat Sanur masih sejuk. Beberapa sumber lama mencantumkan jam buka Jumat yang lebih singkat (tutup pukul 12.30), jadi hindari Jumat siang.
- 2.
Tiket & pemesanan
Bayar di loket saat tiba: Rp10.000 dewasa dan Rp5.000 anak-anak; tidak perlu memesan. Tarif wisatawan mancanegara, jika ada, tidak dipublikasikan secara daring.
- 3.
Aksesibilitas
Belum ada informasi aksesibilitas yang dipublikasikan; hubungi museum sebelum berkunjung.
- 4.
Aturan foto
Tidak ada aturan foto yang dipublikasikan. Lukisan-lukisannya rapuh dan mulai memudar, jadi hindari lampu kilat dan minta izin petugas sebelum memotret karya.
Bagaimana cara ke Museum Le Mayeur?
- Jalan kaki Di tepi pantai Jalan Hang Tuah, Sanur Kaja, sedikit di utara Hotel Grand Bali Beach — mudah dicapai dengan berjalan kaki menyusuri pesisir Sanur
- Taksi Naik Grab, Gojek, atau taksi ke Jalan Hang Tuah, Sanur Kaja; lanjutkan berkendara ke Monumen Bajra Sandhi di Renon
Alamat: Jl. Hang Tuah, Sanur Kaja, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali 80227, Indonesia
Sumber yang kami periksa
Fakta pengunjung dan sejarah di halaman ini berasal dari sumber berikut, diperiksa pada tanggal yang tertera.
- Jangan Cuma ke Pantai, Ini Rute Buat Kamu yang Ingin Berwisata di Denpasar (25 September 2026) — detikBali, 22 Oktober 2026
- Cinta Le Mayeur untuk Ni Polok — Dinas Pariwisata Kota Denpasar (Denpasar City Tourism Office), 22 Oktober 2026
- Le Mayeur Museum — Dinas Pariwisata Kota Denpasar (Denpasar City Tourism Office), 22 Oktober 2026
- Kemenbud akan kirim tim untuk meninjau lukisan di Museum Le Mayeur (30 August 2026) — ANTARA, 22 Oktober 2026
- Museum Le Mayeur — Wonderful Indonesia (Ministry of Tourism), 22 Oktober 2026
- Museum Le Mayeur — Wikipedia bahasa Indonesia, 22 Oktober 2026
- Le Mayeur Museum — Wikipedia, 22 Oktober 2026
Museum Le Mayeur: pertanyaan yang sering diajukan
Berapa harga tiket masuk Museum Le Mayeur?
Tiket masuk Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak, menurut Dinas Pariwisata Kota Denpasar dan pemberitaan lokal pada September 2026. Tarif khusus wisatawan mancanegara tidak dipublikasikan secara daring, jadi tanyakan di loket di ujung utara kompleks saat tiba. Museum ini dikelola di bawah Museum Bali, bagian dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Di mana lokasi Museum Le Mayeur dan bagaimana cara ke sana?
Museum berada di tepi pantai Jalan Hang Tuah, Sanur Kaja, Denpasar Selatan, sedikit di utara Hotel Grand Bali Beach. Susuri pesisir Sanur dengan berjalan kaki atau naik Grab, Gojek, maupun taksi ke Jalan Hang Tuah. Karena sudah buka pukul 08.00 WITA, museum ini kerap disarankan sebagai persinggahan pertama sebelum ke Monumen Bajra Sandhi di Renon.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling Museum Le Mayeur?
Sekitar 45 menit cukup untuk melihat ruang-ruang lukisan di gedung induk dan berjalan melewati bale-bale di taman kompleks tujuh bangunan ini. Sediakan waktu lebih jika ingin mengamati satu per satu 88 karyanya, banyak yang dilukis di atas karung dan papan yang rapuh, atau menggabungkannya dengan jalan-jalan di Pantai Sanur.
Apa saja koleksi unggulan Museum Le Mayeur?
Rumahnya sendiri, yang dibangun Le Mayeur dan Ni Pollok di tepi pantai dan dipenuhi ukiran, perabot, serta peralatan melukisnya, menjadi daya tarik utama. Di dalamnya, carilah potret-potret Ni Pollok, lukisan di atas bagor yang dibuat ketika kanvas langka pada masa perang, dan The Garuda's Dance (1942) yang dilukis di atas tikar rumput.
Bolehkah memotret di dalam Museum Le Mayeur?
Tidak ada aturan foto yang dipublikasikan. Banyak lukisan Le Mayeur sudah memudar — setidaknya satu karya tergantung di tempat yang terkena sinar matahari langsung, ditambah lokasinya di tepi pantai — jadi matikan lampu kilat dan minta izin petugas sebelum memotret karya, terutama lukisan di atas karung yang rapuh.
Siapakah Ni Pollok?
Ni Nyoman Pollok adalah penari Legong Keraton tersohor dari Banjar Kelandis, Denpasar, yang menjadi model utama Le Mayeur dan menikah dengannya pada 1935. Pada 28 Agustus 1957, Le Mayeur menghibahkan rumah itu kepadanya, lalu Ni Pollok menyerahkannya beserta seluruh isinya kepada Republik Indonesia untuk dijadikan museum. Sosoknya hadir dalam banyak lukisan Bali yang dipamerkan.
Apakah Museum Le Mayeur gratis?
Tidak. Tiket masuk Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak. Tarif untuk wisatawan mancanegara tidak dipublikasikan secara daring, jadi tanyakan di loket.
Jam berapa Museum Le Mayeur buka?
Museum Le Mayeur buka setiap hari: 08.00–16.00 WITA (Tutup pada hari libur). Jam buka dapat berubah saat hari libur, jadi periksa situs resmi sebelum berkunjung.
Apakah Museum Le Mayeur buka hari Senin?
Ya — Museum Le Mayeur buka setiap hari, termasuk Senin dan Minggu: Setiap hari: 08.00–16.00 WITA (Tutup pada hari libur). Periksa situs resmi untuk jam buka saat hari libur.