World Museum Guide
Museum Sejarah ⏱ 1–1,5 jam

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)

Jakarta · Indonesia · 1974

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Jakarta

Photo: Chainwit. · CC BY 4.0

Jawaban singkat

Museum Sejarah Jakarta, yang lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah, menempati bekas balai kota Batavia (Stadhuis) yang rampung pada 1710 di kawasan yang kini menjadi Taman Fatahillah, Kota Tua. Buka Selasa–Jumat: 09.00–15.00 WIB; Sabtu–Minggu: 09.00–20.00 WIB; tutup setiap hari Senin. Tiket: Rp10.000 untuk dewasa pada hari kerja dan Rp15.000 pada akhir pekan; Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara. Luangkan waktu 1–1,5 jam.

Informasi pengunjung terakhir ditinjau 25 September 2026. Periksa situs resmi museum untuk informasi terbaru.

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) sekilas: jam buka, harga tiket, dan lama kunjungan

Jam buka Selasa–Jumat: 09.00–15.00 WIB; Sabtu–Minggu: 09.00–20.00 WIB (Tutup setiap Senin)
Tutup Senin
Harga tiket Rp10.000 untuk dewasa pada hari kerja dan Rp15.000 pada akhir pekan; Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara
Gratis atau diskon Anak-anak, pelajar, dan mahasiswa: Rp5.000 · Gratis pada Selasa–Jumat untuk lansia, penyandang disabilitas, dan pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) (wajib menunjukkan identitas)
Pemesanan Tiket biasanya tersedia di hari yang sama
Waktu kunjungan 1–1,5 jam
Waktu terbaik berkunjung Datanglah Selasa–Jumat pagi untuk suasana paling tenang, atau Sabtu/Minggu sore agar bisa sekalian menikmati alun-alun setelah gelap.
Cara ke sana Kereta: KRL Commuter Line ke Stasiun Jakarta Kota — sekitar 5 menit berjalan kaki ke Taman Fatahillah
Alamat Jl. Taman Fatahillah No. 1, Pinangsia, Taman Sari, West Jakarta 11110, Indonesia
Situs resmi museum.kemenbud.go.id

Diperiksa 25 September 2026 dengan situs resmi. Harga dan jam buka bisa berubah — pastikan sebelum berangkat.

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) terkenal karena apa?

Museum Sejarah Jakarta menempati Stadhuis, balai kota Batavia pada masa Belanda. Balai kota pertama sudah berdiri di sini sejak 1627; gedung yang ada sekarang rampung pada 1710 dan diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sebagai pusat administrasi Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC). Kubah dan proporsi bangunannya kerap dibandingkan dengan Paleis op de Dam di Amsterdam. Setelah berfungsi sebagai balai kota hingga 1913, gedung ini menjadi kantor Gubernur Jawa Barat dan markas militer sebelum Gubernur Ali Sadikin meresmikannya sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974.

Sejarah gedung ini menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Di bawah serambi depan terdapat sel-sel sempit yang digunakan sebagai penjara hingga 1846, dan ruang pengadilannya mengingatkan pada peran Stadhuis dalam peradilan kolonial. Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa melawan kekuasaan Belanda, ditahan di sini pada 1830 sebelum diasingkan ke Manado, dan salah satu ruangan museum dinamai menurut namanya. Museum ditutup pada 2011 untuk program konservasi yang dilaksanakan dengan dukungan pemerintah Belanda sejak 2012 dan rampung pada Februari 2015, yang juga menambahkan ruangan tentang rencana revitalisasi Jakarta Old Town Reborn.

Koleksinya yang berjumlah sekitar 23.500 benda menelusuri Jakarta dari temuan prasejarah dan Kerajaan Tarumanegara — diwakili replika Prasasti Tugu, yang aslinya berada di Museum Nasional — melalui Sunda Kelapa dan Jayakarta hingga kota VOC Batavia. Ruang-ruangnya ditata menurut periode, antara lain Ruang Tarumanegara, Jayakarta, Fatahillah, Sultan Agung, dan M.H. Thamrin. Museum ini terutama dikenal dengan koleksi mebel bergaya Betawi dan kolonial Belanda dari abad ke-17 hingga ke-19, di samping peta, lukisan, keramik, senjata, dan prasasti.

Museum ini menghadap Taman Fatahillah di jantung Kota Tua, berdampingan dengan Museum Wayang serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Si Jagur, meriam perunggu Portugis dengan hiasan kepalan tangan yang memunculkan kepercayaan lokal tentang kesuburan, termasuk koleksi museum ini. Sejak Mei 2025, museum buka hingga pukul 20.00 setiap Sabtu dan Minggu, sehingga berkunjung pada sore hari lalu menikmati alun-alun yang bermandikan cahaya lampu menjadi pilihan populer. Tiket masuknya tetap murah — Rp10.000 pada hari kerja dan Rp15.000 pada akhir pekan untuk dewasa, atau Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara.

Cocok untuk: Pencinta sejarah · Penggemar arsitektur · Pengunjung pertama kali

Berapa lama waktu yang dibutuhkan di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)?

Luangkan waktu 1–1,5 jam. Inti balai kota lama Batavia, dari alun-alun di luar hingga sel bawah tanah dan ruang-ruang mebel di lantai atas.

  1. 1

    Taman Fatahillah dan fasad

    📍 Taman Fatahillah

    Nikmati fasad dan kubah bangunan tahun 1710, lalu cari Meriam Si Jagur sebelum masuk.

  2. 2

    Ruang-ruang kronologi

    📍 Lantai dasar

    Telusuri dari masa prasejarah dan Ruang Tarumanegara — dengan replika Prasasti Tugu — hingga Jayakarta dan kota VOC.

  3. 3

    Sel bawah tanah

    📍 Di bawah serambi depan

    Langit-langit yang rendah dan lubang-lubang kecilnya memperlihatkan kerasnya kondisi para tahanan sebelum 1846.

  4. 4

    Ruang mebel dan Ruang Diponegoro

    📍 Lantai atas

    Amati mebel Betawi dan kolonial yang berukir serta ruangan yang dikaitkan dengan penahanan Pangeran Diponegoro pada 1830.

Koleksi apa yang wajib dilihat di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)?

1

Sel penjara bawah tanah

Stadhuis era VOC · digunakan hingga 1846

📍 Di bawah serambi depan

Sel-sel rendah dan sempit di bawah balai kota tempat para tahanan dikurung pada masa kolonial — salah satu ruang paling mencekam di Kota Tua.

2

Prasasti Tugu (replika)

Kerajaan Tarumanegara · abad ke-5 (replika)

📍 Ruang Tarumanegara

Replika prasasti batu berbahasa Sanskerta dari Raja Purnawarman yang ditemukan di kawasan Tugu, Jakarta Utara, bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara kuno di dekat pesisir Jakarta. Prasasti aslinya berada di Museum Nasional.

3

Ruang Pangeran Diponegoro

Masa Perang Jawa · 1830

Ruangan yang dikaitkan dengan penahanan Pangeran Diponegoro, bangsawan Jawa yang memimpin Perang Jawa, yang ditahan di Stadhuis pada 1830 sebelum diasingkan ke Manado.

4

Mebel Betawi dan kolonial Belanda

Batavia · abad ke-17–19

Lemari, kursi, dan meja berukir yang membentuk koleksi mebel bergaya Betawi yang dianggap terkaya, memperlihatkan perpaduan keterampilan perajin Eropa dan lokal di Batavia.

5

Meriam Si Jagur

Meriam perunggu Portugis · masa kolonial

📍 Taman Fatahillah / area museum

Meriam perunggu berat yang ujung belakangnya berbentuk kepalan tangan dengan ibu jari terselip di antara jari-jari — gestur yang memunculkan kepercayaan lokal tentang kesuburan. Meriam ini dipajang di Taman Fatahillah sejak 1970-an.

Tips berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)

  1. 1.

    Aksesibilitas

    Gedung dari awal abad ke-18 ini memiliki banyak anak tangga dan lantai atas; akses tanpa tangga terbatas — tanyakan kepada petugas saat tiba.

  2. 2.

    Waktu terbaik berkunjung

    Datanglah Selasa–Jumat pagi untuk suasana paling tenang, atau Sabtu/Minggu sore agar bisa sekalian menikmati alun-alun setelah gelap.

  3. 3.

    Tiket & pemesanan

    Tidak perlu memesan terlebih dahulu; beli tiket di loket saat tiba. Pembayaran menggunakan kartu uang elektronik seperti JakCard, dan petugas dapat membantu pengunjung yang membayar tunai.

  4. 4.

    Aturan foto

    Memotret santai lazim dilakukan di ruangan dan halaman dalam; hindari lampu kilat di dekat lukisan dan ikuti rambu di setiap ruangan.

Bagaimana cara ke Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)?

  • Kereta KRL Commuter Line ke Stasiun Jakarta Kota — sekitar 5 menit berjalan kaki ke Taman Fatahillah
  • Bus TransJakarta Koridor 1 (Blok M–Kota) hingga halte akhir Kota di samping Stasiun Jakarta Kota
  • MRT/KRL MRT Jakarta ke Stasiun Bundaran HI, lalu TransJakarta Koridor 1 ke arah utara hingga Kota (MRT belum menjangkau Kota Tua)
  • Jalan kaki Museum Wayang serta Museum Seni Rupa dan Keramik berada di seberang Taman Fatahillah, 1–2 menit berjalan kaki

Alamat: Jl. Taman Fatahillah No. 1, Pinangsia, Taman Sari, West Jakarta 11110, Indonesia

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah): pertanyaan yang sering diajukan

Berapa harga tiket masuk Museum Sejarah Jakarta?

Berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta tahun 2024 tentang retribusi, pengunjung dewasa membayar Rp10.000 pada Selasa–Jumat dan Rp15.000 pada Sabtu dan Minggu. Anak-anak, pelajar, dan mahasiswa membayar Rp5.000, sedangkan wisatawan mancanegara membayar Rp50.000. Tiket dijual di loket dengan pembayaran menggunakan kartu uang elektronik seperti JakCard; petugas akan membantu pengunjung yang hanya membawa uang tunai.

Kapan jam buka Museum Sejarah Jakarta?

Museum buka Selasa–Jumat pukul 09.00–15.00 WIB serta Sabtu dan Minggu pukul 09.00–20.00 WIB; museum tutup setiap Senin. Jam buka malam di akhir pekan dimulai pada Mei 2025 sebagai bagian dari program Pemprov DKI Jakarta yang juga mencakup Museum Wayang serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Jam buka dapat berubah menjelang hari raya besar seperti Lebaran.

Apakah museum ini sama dengan Museum Fatahillah?

Ya. Nama resminya adalah Museum Sejarah Jakarta, tetapi museum ini lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah, sesuai nama taman yang dihadapinya, dan terkadang disebut Museum Batavia. Gedungnya sendiri merupakan bekas Stadhuis atau balai kota Batavia pada masa Belanda, yang diresmikan Pemprov DKI Jakarta sebagai museum sejarah pada 30 Maret 1974.

Apa saja daya tarik utamanya?

Gedungnya sendiri adalah daya tarik utama: balai kota era VOC yang rampung pada 1710, dengan sel-sel penjara sempit di bawah serambi depan yang digunakan hingga 1846. Di dalamnya, carilah replika Prasasti Tugu dari Kerajaan Tarumanegara, ruang-ruang yang ditata menurut periode dari prasejarah hingga kota kolonial, ruangan yang dikaitkan dengan penahanan Pangeran Diponegoro pada 1830, serta mebel Betawi dan kolonial Belanda yang indah.

Siapa saja yang bisa masuk gratis?

Museum-museum milik Pemprov DKI Jakarta, termasuk museum ini, menggratiskan tiket masuk pada Selasa–Jumat bagi lansia, penyandang disabilitas, dan pelajar pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) dengan menunjukkan kartu identitas atau KJP. Fasilitas ini tidak berlaku pada akhir pekan maupun hari libur nasional. Pengunjung lain membayar tarif reguler Rp10.000–15.000, atau Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara.

Bagaimana cara ke sana?

Naik KRL Commuter Line ke Stasiun Jakarta Kota; dari sana museum dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar lima menit ke arah utara melintasi Taman Fatahillah. TransJakarta Koridor 1 (Blok M–Kota) berakhir di Halte Kota di samping stasiun. MRT belum menjangkau Kota Tua, jadi dari Stasiun MRT Bundaran HI lanjutkan dengan TransJakarta Koridor 1. Grab dan Gojek bisa menurunkan penumpang di dekat Taman Fatahillah.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan di sini?

Sediakan sekitar 60–90 menit untuk ruang-ruang kronologi di lantai dasar, sel bawah tanah, serta ruang mebel dan Ruang Diponegoro di lantai atas. Museum Wayang serta Museum Seni Rupa dan Keramik menghadap alun-alun yang sama, sehingga mudah menghabiskan setengah hari di Kota Tua dengan mengunjungi dua atau tiga museum dan jalan-jalan bersejarah di sekitarnya.

Kapan waktu terbaik untuk berkunjung?

Pagi pada hari kerja adalah saat paling sepi, dan tiketnya sedikit lebih murah. Pada Sabtu dan Minggu museum buka hingga pukul 20.00, sehingga berkunjung pada sore hari lalu menikmati Taman Fatahillah yang bermandikan cahaya lampu menjadi rencana favorit, meskipun alun-alun ini sangat ramai pada akhir pekan. Karena siang hari di Jakarta sangat panas, kunjungan pagi atau sore terasa lebih nyaman.

Apakah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) buka hari Senin?

Tidak — Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) tutup setiap hari Senin. Rencanakan kunjungan ke museum lain pada hari tersebut dan periksa situs resmi untuk perubahan jam saat hari libur.